Research Article

Hubungan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus di RSUD Wangaya, Bali, Indonesia

Conchita Christal Yasadipura , I Wayan Bikin Suryawan, Anak Agung Made Sucipta

Conchita Christal Yasadipura
Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya, Denpasar, Bali, Indonesia. Email: christalyasadipura@gmail.com

I Wayan Bikin Suryawan
Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya, Denpasar, Bali, Indonesia

Anak Agung Made Sucipta
Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya, Denpasar, Bali, Indonesia
Online First: December 01, 2020 | Cite this Article
Yasadipura, C., Suryawan, I., Sucipta, A. 2020. Hubungan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus di RSUD Wangaya, Bali, Indonesia. Intisari Sains Medis 11(3): 1277-1281. DOI:10.15562/ism.v11i3.706


Background: Hyperbilirubinemia is one of the clinical phenomena most often found in newborns and occurs in 60% of > 35 weeks neonates and 80% of < 35 weeks neonates.  Hyperbilirubinemia is one of the most common causes of infant death (2012, SDKI).  Prevalence and severity of hyperbilirubinemia are found to be higher in newborns with low birth weight (LBW). This study aims to determine the relationship between LBW and incidence of hyperbilirubinemia in neonates at Wangaya hospital.

Methods: This study was an observational analytic study with cross sectional approach conducted in August – September 2019 at Wangaya hospital.  The study subjects were 98 infants aged 0-28 days admitted to Wangaya hospital from August-September 2019 and met the inclusion and exclusion criteria. The subjects were taken by consecutive sampling. Bivariate analysis was performed using the Chi-Square test and calculation of prevalence ratio. Data were analyzed by SPSS version 17 for Windows.

Results: In this study, 98 samples were obtained, and from all of them, as much as 24.5% were found to be LBW, and 9 of them were experiencing hyperbilirubinemia. The result of hypothesis testing with the Chi-Square test obtained p-value=0.042 and PR-value=2.13.

Conclusions: A significant correlation between LBW and incidence of hyperbilirubinemia in neonates at Wangaya hospital and LBW is a risk factor for the incidence of hyperbilirubinemia in neonates.

 

 

Latar Belakang: Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir dimana hiperbilirubinemia terjadi pada 60% dari neonatus > 35 minggu dan 80% dari neonatus < 35 minggu. Berdasarkan SDKI tahun 2012, hiperbilirubinemia merupakan salah satu penyebab kematian bayi tersering. Pravelensi dan tingkat keparahan hiperbilirubinemia ditemukan lebih tinggi pada bayi berat lahir rendah (BBLR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan BBLR dengan kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus di RSUD Wangaya.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang yang dilaksanakan pada bulan Agustus – September 2019 di RSUD Wangaya. Subjek penelitian adalah bayi usia 0-28 hari yang dirawat di RSUD Wangaya selama bulan Agustus – September 2019 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara consecutive sampling. Dilakukan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dan menggunakan perhitungan rasio prevalensi. Data dianalisis dengan SPSS versi 17 untuk Windows.

Hasil: Pada penelitian ini didapatkan sampel sebanyak 98 sampel, dimana didapatkan sampel BBLR sebesar 24,5% dan 9 sampel diantaranya mengalami hiperbilirubinemia. Hasil uji hipotesis dengan uji Chi-Square diperoleh nilai p=0,042 dan nilai RP=2,13.

Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara BBLR dengan hiperbilirubinemia pada nenonatus di RSUD Wangaya dan BBLR merupakan faktor resiko terhadap kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus.

References

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Jakarta, Badan Pusat Statistik, Kementerian Kesehatan, USAID. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Jakarta: 2018. p.137-138

Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Profil Kesehatan Kota Denpasar Tahun 2018. Denpasar; 2019. p.53-58

Watson RL. Hyperbilirubinemia. Crit Care Nurs Clin North Am. 2009;21(1):97-.

Watchko JF, Maisels MJ. Jaundice in low birthweight infants: pathobiology and outcome. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed. 2003;88(6):F455-F458.

Ali R, Ahmed S, Qadir M, Ahmad K. Icterus Neonatorum in Near-Term and Term Infants: An overview. Sultan Qaboos Univ Med J. 2012;12(2):153-160.

AAP Subcommittee on Neonatal Hyperbilirubinemia. Neonatal jaundice and kernicterus. Pediatrics. 2001;108(3):763-765.

American Academy of Pediatrics Subcommittee on Hyperbilirubinemia. Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation. Pediatrics. 2004;114(1):297-316.

Puspita N. Pengaruh Berat Badan Lahir Rendah Terhadap Kejadian Ikterus Neonatorum di Sidoarjo. Jurnal Berkala Epidemiologi. 2018;6(2):174-181

Devi DS, Vijaykumar B. Risk Factors for Neonatal Hyperbilirubinemia: A Case Control Study. International Journal of Reproduction, Contraception, Obstetrics and Gynecology. 2017;6(1):198-202

Imron R, Metti D. Hubungan Berat Badan Lahir Rendah dengan Kejadian Hiperbilirubinemia pada Bayi di Ruang Perinatologi. Jurnal Keperawatan Sai Betik. 2015;11(1):47-51

Yuliawati D, Astutik RY. Hubungan Faktor Perinatal dan Neonatal Terhadap Kejadian Ikterus Neonatorum. Jurnal Ners dan Kebidanan. 2018;5(2):83-89.

Schwoebel A, Sakraida S. Hyperbilirubinemia: new approaches to an old problem. J Perinat Neonatal Nurs. 1997;11(3):78-97.

Das S, van Landeghem FKH. Clinicopathological Spectrum of Bilirubin Encephalopathy/Kernicterus. Diagnostics (Basel). 2019;9(1):24.

Narang A, Kumar P, Kumar R. Neonatal jaundice in very low birth weight babies. Indian J Pediatr. 2001;68(4):307-309.

Najib KS, Saki F, Hemmati F, Inaloo S. Incidence, risk factors and causes of severe neonatal hyperbilirubinemia in the South of iran (fars province). Iran Red Crescent Med J. 2013;15(3):260-263.

Parwata WSS, Putra PJ, Kardana M, Artana WD, Sukmawati M. The characteristic of neonatal hyperbilirubinemia before and after phototherapy at Sanglah Hospital, Denpasar, Bali in 2017. Intisari Sains Medis. 2019;10(2):309-312.

Musti IBDP, Duarsa GWK, Mahadewa TGM, Wirata G. Berat badan lahir lebih dari 4000 gram merupakan faktor risiko kejadian mikropenis pada bayi baru lahir di Denpasar tahun 2019. Intisari Sains Medis. 2019;10(3):604-607.


No Supplementary Material available for this article.
Article Views      : 86
PDF Downloads : 35