Research Article

Gambaran prevalensi fraktur humerus di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Bali, Indonesia periode tahun 2015-2016

Ni Kadek Dyah Devita Sari , Anak Agung Gde Yuda Asmara

Ni Kadek Dyah Devita Sari
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, Indonesia. Email: dyahdevita30@yahoo.com

Anak Agung Gde Yuda Asmara
Departemen Ortopedi dan Traumatologi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Bali, Indonesia
Online First: March 24, 2020 | Cite this Article
Sari, N., Asmara, A. 2020. Gambaran prevalensi fraktur humerus di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Bali, Indonesia periode tahun 2015-2016. Intisari Sains Medis 11(1): 194-197. DOI:10.15562/ism.v11i1.533


Background: Fracture is the cause of a high number of disabilities worldwide. One of the fractures is humerus fracture, often occur because of injury. The classic symptoms of a fracture are a history of trauma, pain and swelling in the fractured bone, deformity, and musculoskeletal malfunction. This study aims to determine the prevalence of humerus fracture in Sanglah General Hospital Centre of April 2015 - December 2016.

Methods: A retrospective descriptive cross-sectional study by secondary data was conducted among 27 medical records of the patient. The sample population of this study were all inpatients with humerus fracture at orthopaedic installation Sanglah General Hospital during April 2015–December 2016. Data were analyzed using SPSS version 21 for Windows.

Results: Most cases were females (51.9%). The age groups of <20 years old and 20-40 years old have the highest frequency (29.6%, respectively). The students had the most common of humerus fracture (33.0%). Closed fracture prevalence was found by 77,8%, and the open fracture was 22,2% from all cases. Management of the most committed to a closed fracture is ORIF while the open fracture is having debridement ORIF as the most committed management.

Conclusion: The most prevalence of humerus fracture at Sanglah General Hospital during the 2015-2016 period was females, age group <20 and 20-40 years old, occurred in students, and closed fracture type.

 

Latar belakang: Fraktur merupakan penyebab tingginya angka kecatatan di seluruh dunia. Salah satunya fraktur humerus, sering terjadi karena cedera. Gejala klasik fraktur adalah adanya riwayat trauma, rasa nyeri dan bengkak di bagian tulang yang patah, deformitas, gangguan fungsi muskuloskletal, putusnya kontinuitas tulang dan gangguan neurovascular. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi fraktur humerus di RSUP Sanglah dari April 2015 – Desember 2016

Metode: Penelitian potong lintang deskriptif retrospektif dengan data sekunder dilakukan terhadap 27 catatan medis pasien. Populasi sampel penelitian ini adalah semua pasien rawat inap dengan fraktur humerus di instalasi ortopedi RSUP Sanglah selama April 2015 - Desember 2016. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 21 untuk Windows.

Hasil: Sebagian besar kasus adalah perempuan (51,9%). Kelompok usia <20 tahun dan 20-40 tahun memiliki frekuensi tertinggi (masing-masing 29,6%). Para siswa memiliki proporsi fraktur humerus yang paling sering (33,0%). Prevalensi fraktur tertutup ditemukan oleh 77,8%, dan fraktur terbuka adalah 22,2% dari semua kasus. Manajemen yang paling banyak terhadap fraktur tertutup adalah ORIF sedangkan fraktur terbuka mengalami debridemen ORIF sebagai manajemen yang paling banyak.

Kesimpulan: Prevalensi fraktur humerus yang paling banyak di RSUP Sanglah selama periode 2015-2016 adalah wanita, kelompok usia <20 dan 20-40 tahun, terjadi pada siswa, dan tipe fraktur tertutup.

References

Hariyono DC, Hasan M, Prasetyo R. Perbandingan Rentang Gerak Sendi Bahu Siku dan Kekuatan Otot Lengan Atas pada Pasien Fraktur Humerus dengan Terapi Operatif dan Non-Operatif RS Dr. Soebandi. Journal of Agromedicine and Medical Sciences. 2015;1(1):25-28

Amin S, Achenbach SJ, Atkinson EJ, Khosla S, Melton LJ 3rd. Trends in fracture incidence: a population-based study over 20 years. J Bone Miner Res. 2014;29(3):581–589.

Karladani AH, Granhed H, Kärrholm J, Styf J. The influence of fracture etiology and type on fracture healing: a review of 104 consecutive tibial shaft fractures. Arch Orthop Trauma Surg. 2001;121(6):325–328.

Loi F, Córdova LA, Pajarinen J, Lin TH, Yao Z, Goodman SB. Inflammation, fracture and bone repair. Bone. 2016;86:119–130.

Kwok AW, Leung JC, Chan AY, et al. Prevalence of vertebral fracture in Asian men and women: comparison between Hong Kong, Thailand, Indonesia and Japan. Public Health. 2012;126(6):523–531.

Ramadhani RP, Romadhona N, Djojosugito MA, Dyana EH, Rukanta D. Hubungan Jenis Kecelakaan dengan Tipe Fraktur pada Fraktur Tulang Panjang Ekstremitas Bawah. Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains. 2019;1(1):32-35

Riset Kesehatan Dasar. Angka Kejadian Fraktur di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012.

Amin S, Achenbach SJ, Atkinson EJ, Khosla S, Melton LJ 3rd. Trends in fracture incidence: a population-based study over 20 years. J Bone Miner Res. 2014;29(3):581–589.

Lefevre Y, Journeau P, et al. 2013. Proximal humerus fractures in children and adolescents. Orthopaedics & Traumatology: Surgery & Research 100 (2014) S149–S156.

Chu SP, Kelsey JL, Keegan TH, et al. Risk factors for proximal humerus fracture. Am J Epidemiol. 2004;160(4):360–367.

Ensrud KE. Epidemiology of fracture risk with advancing age. J Gerontol A Biol Sci Med Sci. 2013;68(10):1236–1242.

Tscherne H, Südkap NP. Patofyziologie otevrených zlomenin a základy jejich osetrování. (Souborný referát) [Pathophysiology of open fractures and principles of their treatment. Review]. Acta Chir Orthop Traumatol Cech. 1990;57(3):193–212.

Suyasa IK, Lestari AAW, Prabawa IPY, Marta KKA. Water sport-related spine injury in Bali: a review and preliminary study. Indonesia Journal of Biomedical Science. 2019;13(2):72-76.


No Supplementary Material available for this article.
Article Views      : 115
PDF Downloads : 54