Research Article

Karakteristik penderita tuberkulosis paru di Poli Paru RSUP Sanglah Denpasar pada bulan Januari 2016-Juli 2017

I Putu Govinda Orna Jaya , I Made Bagiada, Pande Ketut Kurniari

I Putu Govinda Orna Jaya
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Email: govindaorna9@gmail.com

I Made Bagiada
SMF Penyakit Dalam, Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah-Universitas Udayana Bali-Indonesia

Pande Ketut Kurniari
SMF Penyakit Dalam, Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah-Universitas Udayana Bali-Indonesia
Online First: December 01, 2020 | Cite this Article
Orna Jaya, I., Bagiada, I., Kurniari, P. 2020. Karakteristik penderita tuberkulosis paru di Poli Paru RSUP Sanglah Denpasar pada bulan Januari 2016-Juli 2017. Intisari Sains Medis 11(3): 1056-1061. DOI:10.15562/ism.v11i3.195


Background: Tuberculosis (TB) is a global infectious disease was ranked at the second position caused died after HIV. This disease was caused by Mycobacterium tuberculosis that was attacked pulmonary organ or extrapulmonary organ. One of the countries that has a high incidence of tuberculosis is Indonesia. Indonesia was ranked at  the second position as the country with the most top tuberculosis cases in the world after India.

Objective: This research was aimed to know the characteristic of patients with pulmonary tuberculosis in Pulmonary Poly of RSUP Sanglah.

Methods: This research was a observational descriptive study with cross-sectional approach. The subjects were 43 patients diagnosed with pulmonary tuberculosis and did the treatment in Pulmonary Poly of RSUP Sanglah from January 1, 2016 until July 31, 2017. This research is using primary data from the interview, measurement, and direct observation.

Results: The results showed patients with pulmonary tuberculosis was 88.4% in productive age group; 69.8% men; educational background of subjects was 39.5% senior high school; 30.2% private employee; Socioeconomic level of 65.1% subjects was low category; 39.5%, not an active smoker; 60.5% subjects had TB contact history; 81.4% HIV negative; 95.3% subjects didn’t have DM history; 67.4% of subjects had normal body mass index; 67.4% of subjects had qualify of ventilation (large ventilation ?10%); 67.4% subjects didn’t have qualify of house humidity (humidity <40% or >70%); 55.8% subjects didn’t have qualify of house lighting (lighting <60 lux or >300 lux); 81.4% subjects had house wall which is waterproof;  all of the subjects had house floor which is waterproof.

 

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi global yang menduduki posisi kedua penyebab kematian setelah HIV. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri patogen Mycobacterium tuberculosis yang menyerang organ paru atau ekstra paru seseorang. Salah satu negara yang memiliki angka kejadian tuberkulosis yang cukup tinggi adalah Indonesia. Indonesia menduduki posisi kedua sebagai negara dengan kasus TB tertinggi di dunia setelah India.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita tuberkulosis paru di Poli Paru RSUP Sanglah.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Subjek penelitian adalah 43 pasien yang terdiagnosis menderita tuberkulosis paru dan melakukan pengobatan di Poli Paru RSUP Sanglah pada rentang waktu 1 Januari 2016 s.d. 31 Juli 2017. Data penelitian adalah data primer yang diperoleh dari wawancara, pengukuran, dan observasi langsung.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien TB paru terbanyak terdiri dari 88,4% memiliki usia produktif; 69,8% jenis kelamin laki-laki; 39,5% memiliki tingkat pendidikan SMA; 30,2% pegawai swasta; 65,1% berstatus sosial ekonomi kategori rendah; 39,5% bukan perokok aktif; 60,5% memiliki riwayat kontak TB; 81,4% HIV negatif; 95,3% tidak memiliki riwayat diabetes melitus; 41,8% memiliki indeks massa tubuh normal; 67,4% memiliki ventilasi rumah yang memenuhi syarat (luas ventilasi ?10%); 67,4% memiliki kelembaban rumah yang tidak memenuhi syarat (kelembaban <40% atau >70%); 55,8% memiliki pencahayaan rumah yang tidak memenuhi syarat (pencahayaan <60 lux atau >300 lux); 81,4% memiliki dinding rumah kedap air; dan seluruh pasien memiliki jenis lantai kedap air.

References

World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2016. World Health Organization. Washington DC; 2017.

Departeman Kesehatan Republik Indoneisa. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2016.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 2014.

Soraya DAH, Artika DM. Profil Pasien Koinfeksi TB-HIV di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Bali Tahun 2013. E-Jurnal MEDIKA. 2016; 5(7): 1-5.

Mahfuziah I. Gambaran Faktor Risiko Penderita TB Paru Berdasarkan Status Gizi dan Pendidikan di RSUD Dokter Soedarso (Tesis) Pontianak: Universitas Tanjungpura; 2014.

Panjaitan F. Karakteristik Penderita Tuberkulosis Paru Dewasa Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Dr. Soedarso Pontianak Periode Septmber-November 2010 (Skripsi). Pontianak: Universitas Tanjungpura; 2012

Yuliana K, Yovi I, Restuastuti T. Karakteristik Pasien Tuberkulosis Paru Kasus Baru yang Dinyatakan Sembuh di Poli Paru RSUD Arifin Achmad Periode Januari 2011-Desember 2013. Jom. 2014; 1 (2): 1-11.

Musadad A. Hubungan Faktor Lingkungan Rumah dengan Penularan TB Paru Kontak Serumah. Jurnal Ekologi Kesehatan. 2006; 5 (3): 486-496.

Narasimhan P, Wood J, Macintyre, CR, Mathai D. Risk Factors for Tuberculosis. Pulmonary Medicine. 2013; 1-11.

Shetty N, Shemko M., Vaz M., Souza D. An Epidemiological Evaluation of Risk Factors for Tuberculosis in South India: A Matched Case Control Study. Int J Tuberc Lung Dis. 2006; 10(1):80–86.

Haar CH, et al. HIV Prevalence among Tuberculosis Patients in The Netherlands, 1993–2001: Trends and Risk Factors. Int J Tuberc Lung Dis. 2006; 10 (7):768–774.

Osei E, et al. The Burden of HIV on Tuberculosis Patients in the Volta Region of Ghana from 2012 to 2015: Implication for Tuberculosis Control. BMC Infectious Diseases (2017). 2017; 17: 504-513.

World Health Organization. Global Health Obseravatory Data. World Health Organization Washington DC; 2017.

Jepsen DF, et al. Diabetes Is a Risk Factor for Pulmonary Tuberculosis: A Case-Control Study from Mwanza, Tanzania. PloS ONE. 2011; 6(8): 1-5.

World Health Organization. Global Report on Diabetes. World Health Organization Washington DC; 2016.

Rikyadini V. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Tuberkulosis pada Usia Kerja di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo (Skripsi). Surakarta: Universitas Muhamadiyah Surakarta; 2012.

Fitriani E .Faktor Resiko yang Berhubungan dengan Kejadian Tuberkulosis Paru. Unnes Journal of Public Health. 2013: 2 (2013): 1-6.

Izzati S, Basyar M, Nazar J. Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Tahun 2013. Jurnal Kesehatan Andalas. 2015; 4 (1): 262-268.

Rosiana AM. Hubungan Antara Kondisi Fisik Rumah dengan Kejadian Tuberkulosis Paru. UJPH. 2013; 2(1): 1-9.

Sinaga MLS, Rattu JAM, Joseph WBS. Hubungan Antara Kondisi Fisik Rumah dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Tuminting Kota Manado. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangit; 2014.

Rukmnini, Chatarina UW. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Kejadian TB Paru Dewasa di Indonesia (Analisis Data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010). Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 2011; 14 (4): 320–331.

Wahyuni DS. Hubungan Kondisi Fisik Rumah dan Karakteristik Individu dengan Kejadian Tuberkulosis Paru BTA Positif di Puskesmas Ciputat Kota Tangerang Selatan Tahun 2012. BIMKMI. 2013; 1(1): 1-8.


No Supplementary Material available for this article.
Article Views      : 24
PDF Downloads : 10