Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer

Perbedaan karakteristik pasien kasus gigitan hewan penular rabies di Puskesmas Kuta Utara periode Agustus – Oktober tahun 2021

Abstract

Background: The bite of an animal that transmits rabies is still a problem in Indonesia, one of which is in the province of Bali. The high dog population and the habit of straying dogs cause the risk of rabies transmission due to dog bites to be higher. North Kuta District is one of the areas where the case of bites of animals that transmit rabies is found. The purpose of this study was to determine the differences in the characteristics of patients with rabies-transmitting animal bites at the North Kuta Health Center from August to October 2021.

Methods: The study used a quantitative analytical design with a cross-sectional approach. The sample is patient medical record data at the North Kuta Health Center for the period August to October 2019. Data analysis was carried out using descriptive tests to describe patient characteristics. Bivariate test using Chi-square or Fisher’s Exact test was carried out to determine the differences in the characteristics of patients bitten by rabies-transmitting animals who received the Anti Rabies Vaccine (VAR) with a p value of <0.05 showing a significant value.

Results: There were 96 patients with rabies-transmitting animal bites at the North Kuta Health Center for the period August – October 2019. The characteristics of the patients showed that most of them were 20 years old (37.50%), bitten by a stray dog (70.83%), the condition of the animal when it was found. still alive (68.75%), bitten on the right leg (37.50%), and received VAR (52.08%). The highest cases of animal bites that transmit rabies occurred during the month of October (41.67%). The results of the Chi-square test showed that the amount of VAR administration was significantly different based on the characteristics of the biting animal species (p<0.0001) and the animal's condition (p<0.0001).

Conclusion: There are still cases of animal bites that transmit rabies in North Kuta District. There was a significant difference in the amount of VAR administration based on the characteristics of the biting animal species and the animal's condition.

 

Latar Belakang: Gigitan hewan penular rabies masih menjadi permasalahan di Indonesia, salah satunya di Provinsi Bali. Populasi anjing yang tinggi serta kebiasaan meliarkan anjing menyebabkan risiko penularan rabies akibat gigitan anjing menjadi semakin tinggi. Kecamatan Kuta Utara merupakan salah satu daerah ditemukannya kasus gigitan hewan penular rabies. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan karakteristik pasien kasus gigitan hewan penular rabies di Puskesmas Kuta Utara periode Agustus hingga Oktober 2021.

Metode: Penelitian menggunakan rancangan kuantitatif analitik dengan pendekatan potong lintang. Sampel merupakan data rekam medis pasien di Puskesmas Kuta Utara periode Agustus hingga Oktober 2019. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji deskriptif untuk menggambarkan karakteristik pasien. Uji bivariate menggunakan Chi-square atau Fisher’s Exact test dilakukan untuk mengetahui perbedaan karakteristik pasien gigitan hewan penular rabies yang memperoleh Vaksin Anti Rabies (VAR) dengan nilai p<0,05 menunjukan nilai signifikan

Hasil: Terdapat 96 pasien kasus gigitan hewan penular rabies di Puskesmas Kuta Utara periode Agustus – Oktober 2019. Gambaran karakteristik pasien memperlihatkan sebagian besar berusia ≤20 tahun (37,50%), digigit oleh anjing liar (70,83%), kondisi hewan saat ditemukan masih hidup (68,75%), digigit di kaki kanan (37,50%), dan memperoleh VAR (52,08%). Kasus gigitan hewan penular rabies tertinggi terjadi selama bulan Oktober (41,67%). Hasil uji Chi-square menunjukkan bahwa jumlah pemberian VAR berbeda signifikan berdasarkan karakteristik jenis hewan penggigit (p<0,0001) dan kondisi hewan (p<0,0001).

Kesimpulan: Masih terdapat kasus gigitan hewan penular rabies di Kecamatan Kuta Utara. Terdapat perbedaan bermakna jumlah pemberian VAR berdasarkan karakteristik jenis hewan penggigit dan kondisi hewan.

References

  1. Warrell MJ, Warrell DA. Rabies: the clinical features, management and prevention of the classic zoonosis. Clin Med (Northfield Il). 2015;15(1):78.
  2. Tanzil K. Penyakit rabies dan penatalaksanaannya. E-journal WIDYA Kesehat dan Lingkung. 2014;1(1).
  3. Ginting E, Susilawathi NM, AA RS. Karakteristik Penderita Rabies Paralitik di RSUP Sanglah, Denpasar. Cermin Dunia Kedokt. 2014;41(11):812–5.
  4. Kemenkes RI. 8 Dari 34 Provinsi di Indonesia Bebas Rabies. Jakarta; 2020.
  5. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2020. Jakarta; 2020.
  6. Utami NWA, Agustina KK, Atema KN, Bagus GN, Girardi J, Harfoot M, et al. Evaluation of community-based dog welfare and rabies project in sanur, a sub-district of the Indonesian island province of Bali. Front Vet Sci. 2019;6:193.
  7. Santhia K, Sudiasa W. Human rabies epidemiology in Bali, Indonesia. Int J Heal Med Sci. 2019;2(1):7–16.
  8. Batan IW, Lestyorini Y, Milfa S, Iffandi C, Nasution AA, Faiziah N, et al. Kerugian Ekonomi Akibat Penyakit Rabies di Provinsi Bali. J Vet Desember. 2014;15(4):515–22.
  9. Suatha IK, Iffandi C, Lestyorini Y, Milfa S, Nasution AA, Faiziah N, et al. Lokasi gigitan secara anatomi dan waktu kematian pascagigitan anjing rabies pada korban manusia di Bali. J Vet. 2015;16(1):31–7.
  10. Utami NWA, Subrata IM, Purnama SG, Swacita I, Agustina KK, Wirawan D. Model Penanggulangan Rabies Berbasis Desa dan Dampaknya pada Populasi Anjing Liar di Sanur. 2017;
  11. Setiawan KH, Probandari AN, Pamungkasari EP, Tamtomo DG. Human behaviour in keeping dogs and its relationship to rabies. Int Res J Manag IT Soc Sci. 2018;5(6):105–13.
  12. Novita R. Peran Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam Menghadapi Tantangan Rabies di Indonesia. J Penelit dan Pengemb Pelayanan Kesehat. 2019;94–105.
  13. Djatmikowati TF, Yudianingtyas DW, Ramadhan B, Firdaus T. Investigasi Kasus Gigitan Anjing Supek Rabies di Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan Februari 2019. Balai Besar Veteriner Maros; 2019.
  14. Mamoto GG, Gosal R, Liando DM. Implementasi Kebijakan Pemerintah Dalam Penanggulangan Hewan Beresiko Rabies Di Kabupaten Minahasa Tenggara (Studi Di Dinas Pertanian Kab. Minahasa Tenggara). GOVERNANCE. 2021;1(2).
  15. Sindawati KA, Puja IK, Dharmawan INS. Peran Manajemen Populasi Anjing dalam Pemberantasan Rabies: Studi Kasus di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Bul Vet Udayana Vol. 2019;13(2):125–36.

How to Cite

Dewi, D. A. D. N., Astuti, P. A. S., & Naya, I. G. A. A. (2022). Perbedaan karakteristik pasien kasus gigitan hewan penular rabies di Puskesmas Kuta Utara periode Agustus – Oktober tahun 2021. Intisari Sains Medis, 13(1), 284–288. https://doi.org/10.15562/ism.v13i1.1308

HTML
0

Total
0

Share

Search Panel

Desak Ayu Dhyana Nitha Dewi
Google Scholar
Pubmed
ISM Journal


Putu Ayu Swandewi Astuti
Google Scholar
Pubmed
ISM Journal


I Gusti Agung Alit Naya
Google Scholar
Pubmed
ISM Journal