Research Article

Gelombang Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) pada anak di bawah lima tahun dengan keterlambatan bicara dan bahasa disertai gangguan pendengaran di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia

Ni Made Ary Wisma Dewi , I Made Wiranadha

Ni Made Ary Wisma Dewi
Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan-Kepala Leher (THT-KL), Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Bali, Indonesia. Email: arywismadewi@gmail.com

I Made Wiranadha
Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan-Kepala Leher (THT-KL), Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Bali, Indonesia
Online First: August 10, 2021 | Cite this Article
Dewi, N., Wiranadha, I. 2021. Gelombang Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) pada anak di bawah lima tahun dengan keterlambatan bicara dan bahasa disertai gangguan pendengaran di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia. Intisari Sains Medis 12(2): 563-567. DOI:10.15562/ism.v12i2.1046


Background: Hearing loss is one factor that influences speech and language development in children, especially in the first five years of life. The detection of hearing loss in a child can be done with an objective Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA). This study aims to evaluate the value of BERA waves in children under five with speech and language delays at the ENT outpatient clinic of Sanglah General Hospital Denpasar.

Methods: This study is a retrospective descriptive study design by taking secondary data from the medical records of patients with speech and language delays accompanied by hearing loss who were subjected to BERA examination. Samples were taken by consecutive sampling. Data analysis in this study consisted of descriptive statistical analysis, independent T test, and one-way ANOVA. Data were analyzed using SPSS version 24 for Windows.

Results: This study involved 65 people as a sample. Based on gender, it was found that male (76.9%) was more than female (23.1%). Most of them were aged 24-35 months (43.1%). The most hearing loss was Moderate SNHL on the right ear (38.5%), while Mild SNHL on the left ear (38.5%). The mean latency time between I-V waves in the left ear of boys was longer, that was 4.96 ms with a variation of 0.56 ms, compared to 4.59 ms for girls with a deviation of 0.64 ms. There was a significant difference in the mean latency between waves I-V of the left ear between male and female toddlers (p=0.033).

Conclusion: Based on the research, it was found that the absolute latency time and between waves of BERA on the right ear did not have a significant difference in boys and girls, but on the left ear, there was a statistically significant difference in the mean of latency time between waves IV in boys and girls.

 

Latar Belakang: Gangguan pendengaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan bicara dan bahasa pada anak terutama pada lima tahun pertama kehidupan. Deteksi gangguan pendengaran pada seorang anak dapat dilakukan dengan pemeriksaan Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) yang objektif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat nilai gelombang BERA pada anak balita dengan keterlambatan bicara dan bahasa di Poliklinik THTKL RSUP Sanglah Denpasar.

Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif retrospektif dengan mengambil data sekunder dari catatan medis pasien keterlambatan bicara dan bahasa disertai gangguan pendengaran yang dilakukan pemeriksaan BERA. Sampel diambil dengan cara consecutive sampling. Analisis data pada penelitian ini terdiri dari analisis statistik deskriptif, uji T independen, dan one way ANOVA. Data dianalisis dengan SPSS versi 24 untuk Windows.

Hasil: Penelitian ini melibatkan 65 orang sebagai sampel. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan jenis kelamin laki-laki (76,9%) lebih banyak dari perempuan (23,1%). Usia terbanyak pada usia 24-35 bulan (43,1%). Gangguan pendengaran paling banyak yaitu SNHL Sedang pada telinga kanan (38,5%), sedangkan pada telinga kiri SNHL Ringan (38,5%).  Rerata masa laten antar gelombang I-V pada telinga kiri balita laki-laki lebih panjang yaitu 4,96 ms dengan variasi 0,56 ms, dibandingkan balita perempuan 4,59 ms dengan variasi 0,64 ms. Terdapat perbedaan bermakna rerata masa laten antar gelombang I-V telinga kiri antara balita laki-laki dan perempuan (p=0,033).

Simpulan: Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa masa laten absolut dan antar gelombang BERA pada telinga kanan tidak ada perbedaan bermakna pada balita laki-laki dan perempuan, namun pada telinga kiri secara statistik terdapat perbedaan bermakna rerata masa laten antar gelombang I-V pada balita laki-laki dengan perempuan.

References

Wijana, Syamsuddin A, Dewi YA. Gelombang Auditory Brainstem Response (ABR) pada anak di bawah lima tahun. Majalah Kedokteran Bandung. 2014;46(3):183-188.

McLaughlin MR. Speech and language delay in children. Am Fam Physician. 2011;83(10):1183-1188.

Mondal N, Bhat BV, Plakkal N, Thulasingam M, Ayajan P, Poorna DR. Prevalence and risk factors of speech and language delay in children less than three years of age. J Compr Ped. 2016;7(2):e33173.

Tan S, Mangunatmadja I, Wiguna T. Risk factors for delayed speech in children aged 1-2 years. Paediatricia Indonesiana. 2019;59(2):55-62.

Beyeng R, Soetjiningsih, Windiani T. Prevalensi dan karakteristik keterlambatan bicara pada anak prasekolah di TPA Werdhi Kumara I dengan early language milestone scale-2. Jurnal Ilmu Kesehatan Anak. 2012;1(1):12-17.

Gunawan LM, Wijana, Pratiwi YS. Oto-Acoustic Emission and Auditory Brainstem Response profile in children with speech delay at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Althea Medical Journal. 2016;3(2):265-268.

Giroux AP, Pratt LW. Brainstem evoked response audiometry. Ann Otol Rhinol Laryngol. 1983;92(2 Pt 1):183-186.

Sari SNL, Memy YD, Ghanie A. Angka kejadian delayed speech disertai gangguan pendengaran pada anak yang menjalani pemeriksaan pendengaran di Bagian Neurootologi IKTHT-KL RSUP Dr.Moh. Hoesin. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. 2015;2(1):121-127.

Yoshinaga-Itano C, Sedey AL, Wiggin M, Chung W. Early Hearing Detection and Vocabulary of Children With Hearing Loss. Pediatrics. 2017;140(2):e20162964.

Halliday LF, Tuomainen O, Rosen S. Language Development and Impairment in Children With Mild to Moderate Sensorineural Hearing Loss. J Speech Lang Hear Res. 2017;60(6):1551-1567.

Esteves MC, Dell' Aringa AH, Arruda GV, Dell' Aringa AR, Nardi JC. Brainstem evoked response audiometry in normal hearing subjects. Braz J Otorhinolaryngol. 2009;75(3):420-425.

Robert B, McNerney K. Introduction to Auditory Evoked Potentials. In: Katz J, [Editor]. Handbook of Clinical Audiology. Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins; 2009: 222-41.

Bahrami MA, Ansari A, Chama-Ara, Bahrami E, Bahrami S, Bahrami MN, et al. Neutrophil-to-lymphocyte ratio and platelet-to- lymphocyte ratio as novel markers for diagnosis of sudden sensorineural hearing loss: a systematic review and meta-analysis. Bali Medical Journal. 2016;5(2):197-201.


No Supplementary Material available for this article.
Article Views      : 208
PDF Downloads : 119